Talk Show KPI TV; Tingginya Kasus Perceraian di Jepara

Talk Show KPI TV; Tingginya Kasus Perceraian di Jepara

TAHUNAN - KPI TV – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fadakom) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara menyelenggarakan kegiatan talk show yang dimotori oleh KPI TV pada Jumat (18/02/2022). 

Talk show bincang pagi yang di laksanakan oleh KPI TV kali ini menghadirkan narasumber Wakil Ketua Pengadilan Agama Jepara Syarkawi, S.Ag., MH. dan Kepala Pusat Studi Gender dan Anak Unisnu Jepara Santi Andriyani, S.Pd.I., M.Pd. Pada talk show kali ini mengambil tema “Tingginya Kasus Perceraian di Jepara” kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan juga wawasan mengenai Peradilan di Jepara.

Syarkawi selaku narasumber mengatakan penyebab tingginya kasus perceraian di Jepara sendiri adalah rata-rata kasus KDRT, persoalan ekonomi yang tidak terpenuhi, sudah tidak adanya keharmonisan lagi dalam keluarga dan yang lainnya. “Pengadilan agama juga tidak langsung mengabulkan permintaan perceraian yang diajukan oleh penggugat, melainkan pengadilan agama memberikan waktu untuk mediasi kedua belah pihak, apakah masih ada jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan mereka tanpa harus terjadinya perceraian, karena yang dirugikan bukan dari suami dan istri, melainkan para anak-anaknya yang mendapatkan imbasnya”, jelasnya.

Syarkawi berharap dengan adanya PSGA bias memberikan edukasi, sosialisasi agar tidak salalu mengambil keputusan dengan perceraian dalam permasalahan keluarga.

Sementara itu, Santi selaku narasumber mengatakan peran PSGA sendiri adalah mengedukasi persoalan gender dan juga anak di Unisnu Jepara sendiri utamanya, dan juga meliputi masyarakat umum, “karena basic-nya akademik, sehingga ranahnya kepada tri dharma perguruan tinggi, sehingga fokusnya mengedukasi persoalan gender dan anak”, terangnya.

Santi menambahkan, faktor-faktor perceraian adalah seperti yang dibilang diatas. “Terjadinya perceraian dikarenakan tidak adanya pilar-pilar pernikahan, yaitu Muasyaroh Bil Ma’ruf, Musyawarah, dan Zawwaj yang artinya saling mengisi, saling menghormati satu sama lain, tidak ada sub ordinasi bahwa yang laki-laki yang lebih kuasa dan perempuan yang dikuasai”, imbuhnya.

Santi selaku kepala PSGA Unisnu Jepara berpesan kepada para remaja sekarang, jangan terburu-buru untuk menikah, karena semua harus dipersiapkan matang-matang agar semuanya tidak terlambat. Kepada masyarakat yang sudah menikah kembali rekatkan 5 pilar pernikahan”, pungkasnya. (Fawwas)

Selengkapnya simak di video berikut:



Admin FDK

Komentar